Krisis Energi AI 2026: Saat Skalabilitas Menabrak Batas Jaringan Listrik

Tahun 2026 membawa kenyataan pahit bagi industri AI: skalabilitas kini terbentur oleh keterbatasan fisik jaringan listrik. Angka-angka yang muncul sangat mengejutkan. Permintaan listrik pusat data global diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat menjadi 84 gigawatt pada tahun 2028, dengan beban kerja AI sebagai pendorong utama.
Elon Musk sempat menyatakan bahwa faktor pembatas utama penyebaran AI saat ini adalah tenaga listrik. Jensen Huang dari NVIDIA pun menimpali dengan catatan bahwa dalam kompetisi infrastruktur dasar ini, Tiongkok memiliki kapasitas pembangkit listrik hampir dua kali lipat dari Amerika Serikat.
Masalahnya bukan hanya soal jumlah listrik yang tersedia, tapi juga infrastruktur transmisi yang menua. Di AS, sekitar 70% jaringan listrik mendekati akhir masa pakainya. Pengembang pusat data kini menghadapi antrean bertahun-tahun untuk mendapatkan komponen turbin gas atau koneksi ke jaringan listrik utama.
Februari 2026 menjadi momen di mana perusahaan harus membuat pilihan sulit. Strategi "skalabilitas dengan segala cara" mulai ditinggalkan. Alih-alih hanya membuat model yang lebih besar, kini fokus bergeser ke arah efisiensi algoritma, optimasi inferensi, dan pembangunan pusat data yang berdampingan langsung dengan pembangkit listrik (seperti nuklir atau reaktor modular kecil). Pemenang di era AI ke depan bukan lagi sekadar mereka yang punya chip terbanyak, melainkan mereka yang berhasil mengamankan pasokan energi jangka panjang.